Jika ditelaah lebih jauh, banyak faktor terjadinya kebakaran. Bisa dari human error, arus pendek, kompor, sampai kurang memadainya perangkat pendukung kebakaran di gedung-gedung bertingkat. Karenanya, menurut Dosen Jurusan Arsitektur Univeristas Pelita Harapan, Manlian Manlian Adventus Simanjuntak, MT, perlu adanya fire protection sedini mungkin.

Menurut Manlian, begitu pria kelahiran Jakarta, 30 April 1974 ini biasa disapa, peristiwa kebakaran yang terjadi selama ini sebenarnya bukan hanya menjadi tanggung jawab Dinas Pemadam Kebakaran saja. Namun, sudah menjadi tanggung jawab bersama, baik itu dari instansi terkait maupun masyarakat. “Jadi, kita harus awareness of fire. Kalau pemahaman itu sudah tumbuh dengan baik di benak semua pihak, ketika terjadi kebakaran  tidak saling tuding-tudingan,kata Manlian.

 

Manlian menyadari, masalah kebakaran, khususnya di Jakarta, masih menjadi polemik. Misalnya masih ada pihak-pihak yang mempertanyakan persoalan penanggulangan kebakaran ini sebenarnya tugas siapa, kenapa orang membiarkan, dan sebagainya. Sebagai masyarakat yang hidup di negara berkembang, kata Manlian, wajar masih ada pemikiran seperti itu. Beda dengan pemikiran masyarakat di negara-negara maju. “Negara berkembang seperti Indonesia itu tolok pikirnya memang belum seperti negara-negara maju, kesadarannya masih kurang,kata peraih gelar Doktoral Bidang Ilmu Teknik Sipil Universitas Indonesia tahun 2001 ini.

 

Mengenai masalah kurang perhatiannya terhadap pencegahan bahaya kebakaran, kata  Manlian, kadang tak hanya terjadi di lingkungan perumahan padat penduduk. Di bangunan-bangunan permanen, seperti gedung bertingkat pun kadang masih kurang diperhatikan, seperti belum dilengkapinya perangkat pendukung kebakaran yang memadai. Kalau toh bangunan itu dilengkapi perangkat kebakaran, seumpama sprinkler atau alat kebakaran lainnya, kemampuan mereka untuk merawat tidak setinggi dan secanggih orang-orang di negara maju.

 

Lebih jauh Manlian menjelaskan, dalam soal pencegahan bahaya kebakaran di negara berkembang seperti di Indonesia mengenal tiga langkah pencegahan. Proteksi pertama, dengan menggunakan cara passive protection. Artinya bangunan itu mesti aman dulu dari bahaya kebakaran. Namun  itu merupakan bagian dari sistem pengamanan kebakaran secara total, yang namanya fire safety design. Jadi, bangunannya dulu yang masuk dalam kategori aman dari ancaman bahaya kebakaran.

 

Kedua, baru bangunan itu dilengkapi dengan alat dan sistem proteksi tambahan, yang disebut seperti sprinkler dan sarana pendukung lainnya. Langkah ini disebut active protection. Sedangkan ketiga adalah tipenya. Artinya, bagaimana masyarakat yang sudah mumpuni dan masyarakat sekitarnya itu safety to the fire. Dan semua komponen itu nantinya secara bersama-sama menjadi satu.

 

Selain ketiga langkah pencegahan kebekaran itu, tambah Manlian, yang tak kalah penting lagi adalah peran eksternal, yaitu pemerintah sebagai pembina. Karena kita punya peraturan bahwa pemerintah itu sebagai pembina. Jadi kalau dikaitkan dengan Dinas Kebakaran, instansi ini sebagai konselir sistem. Sebagai konselir, Dinas Kebakaran meningkatkan pemahaman ke berbagai pihak, kemudian membantu pemadaman, kata Manlian pula.

 

Meski bertugas memadamkan kebakaran, namun menurut Manlian, ini tentunya bukan membantu memadamkan secara total. Kenapa saya bilang membantu? Begini, ketika bangunan terbakar, identifikasi terbakar itu pertama dari penghuni beserta alat. Jadi penghuni sebenarnya sudah mengambil sikap pertama ketika bangunan terbakar. Tapi pengalaman yang sudah-sudah, ketika terjadi kebakaran, orang langsung lari keluar tidak melakukan apa-apa,imbuhnya. 

 

Selain itu, lanjut Manlian,  sadar tidak sadar, bangunan itu sebenarnya melakukan proteksi. Misalnya ketika terjadi kebakaran orang-orang keluar melalui tangga-tangga atau lift untuk memudahkan penyelamatan. Lalu dindingnya juga tahan terhadap api atau kompertemenisasi—yang dilengkapi sarana pembuangan asap yang secara otomatis.

 

“Jadi, secara tidak langsung bangunan itu sebenarnya sudah membantu tim Dinas Kebakaran. Baru setelah itu mereka mengirimkan signal ke Dinas Kebakaran secara otomatis untuk datang ke TKP. Jadi, itu dulu yang harus dipahami. Tidak bisa sepenuhnya terjadinya kebakaran itu disalahkan Dinas Kebakaran, tukasnya.             

 

Sebagai dosen, Manlian tak bosan-bosannya menyampaikan serta mengajarkan kepada para mahasiswanya, khususnya jurusan arsitektur, supaya mereka bisa mendesain bangunan itu supaya mampu mencegah dan mengantisipasi jika kebakaran. Desainnya itu, kata Manlian, bermacam-macam, misalnya, mengenai denah bangunannya. Kalau kita lihat fire scenario kebakaran itu terjadi dari satu room (ruangan). Dari situ merembet room to room in one floor (satu lantai), floor to floor one building, lalu building to building. Jadi memang mereka sudah merancang mulai dari ruangannya dulu, misalnya penempatan ruangannya beserta bahan-bahan dan alat-alat bangunannya,” terangnya.            

 

Dia menambahkan, Setelah itu, barulah dirancang tangga-tangga kebakaran, sampai  penempatan hidran. Jadi, mereka melengkapi dulu bangunannya setelah itu melengkapi bagian eksternalnya. Itu pun harus didesain juga bagian luarnya, misalnya membuat jalan-jalan untuk memudahkan Dinas Kebakaran sampai ke lokasi bangunan tersebut.

 

Manlian mencontohkan, dalam mendesain jalan, misalnya, untuk jalan dua arah, si perancang harus memikirkan ruang (jalan) untuk kendaraan Dinas Kebakaran. Jadi, kalau di kanan-kiri arus kendaraan sedang mobile atau padat, mobil Dinas Kebakaran itu masih bisa lewat di ruas tengah jalan tersebut. Karena itu, dia menyarankan untuk jalan dua arah, baiknya dibuat lima row. Sementara yang satu arah, baiknya tiga row.

 

Kalau ada pertanyaan, kenapa jalannya jadi lebar? Ya, memang harus begitu. Itu kalau memang kita dasarnya aware. Karena kalau fasilitas jalannya tidak baik, dampaknya kalau terjadi kebakaran bangunan itu akan habis dilalap api. Umumnya, fasilitas jalan yang kurang memadai itu berada di lingkungan yang padat penduduk,” kata dosen yang telah puluhan kali menjadi pembicara di seminar konstruksi bangunan permanen.

 

Standarisasi bangunan

Menyoal standarisasi bangunan, dari kaca mata Manlian, bangunan maupun fasilitas pendukung lainnya di Jakarta masih tertinggal dengan standarisasi di negara maju. Apalagi selama ini, untuk persoalan standarisasi, kita masih menggunakan pola perspektif B (performance B). Hal ini juga menjadi perhatian Manlian. Tak hanya itu. Dia bahkan sampai melakukan penelitian, karena menurutnya sudah banyak orang-orang yang terjebak dalam perspektif B. Bagi seorang arsitek, merancang bangunan itu harus pintar dan kreatif. Kalau semua sudah standar, lalu apa peran arsitek di sana? Standar dan peraturan yang ada dalam perspektif B memang tidak salah. Tapi, kemampuan dari perancangnya harus dengan performance. Di luar negeri, standar dan peraturan itu dengan metode performance, Tidak kaku, penyelesaian permasalahan dengan berbagai alternatif. Nah, tantangan perundang-undangan kita harusnya seperti itu, katanya panjang lebar.

 

Manlian memang tak berani bilang peraturan perundang-undangan kita kurang atau bahkan tidak baik. Sebab, kata Manlian, kita punya UU tentang Peraturan Gedung Nomor 28 tahun 2002 yang diilhami oleh UU Jasa Konstruksi Nomor 18 tahun 1999. Selain itu ada Perda Nomor 3 tahun 1992 serta Kepmen. Jadi semua ada perangkat peraturannya termasuk SLI-nya, misalnya untuk struktur bangunan, untuk tangga, dan sebagainya. Cuma, tandas Manlian, peraturan-peraturan itu tidak dibuat secara  sistematis, misalnya untuk bangunannya, objeknya, perancangnya dan seterusnya. Sementara di luar negeri pemahaman seperti itu sudah berkembang sangat pesat.       

 

Manlian menjelaskan, dalam soal merancang sebaiknya sesuai fungsi, dan penempatannya pun harus tepat. Jangan sampai karena ada standar kemudian menjadi kaku penempatan alat bantu kebakaran. Misalnya soal penempatan sprinkler. Manlian menekankan, Pokoknya dia (sprinkler) bisa melayani dan mematikan api sesuai kapasitasnya.  Namun mengenai penempatan bukan karena di atas atau di mana, tapi di lokasi yang memang riskan terhadap api. Kalau memang tidak mengandung bahaya api, tidak usah dipasang springkler.

 

Metode seperti itu dinamakan Manlian sebagai performance. Dalam permasalahan lain, seperti pemasangan detektor (alarm), kata Manlian,  mungkin bisa dipasang di mana saja. Sementara srinkler untuk optimasinya bisa dipasang pada daerah-daerah yang mengandung resiko.

 

Tapi itu semua, tandas Manlian, kembali lagi kepada manusianya. Karena, kalau pun bangunannya sudah dirancang tahan terhadap api serta dilengkapi proteksi yang baik, kalau orangnya ceroboh terus, ya kebakar juga.

Jika sudah terjadi kebakaran, ujung-ujungnya tentu diserahkan kepada petugas Dinas Kebakaran untuk membantu memadamkan api. Karena semua itu, ujar Manlian, masih terkait dalam satu sistem, yang dinamakan environment source system. Kalau saya lihat di beberapa negara, Dinas Kebakaran itu seperti tentara yang siap setiap waktu jika dibutuhkan tenaganya. Namun mereka dilengkapi fasilitas yang lengkap tak hanya saat bertugas tapi juga jaminan hidupnya. Jadi, ketika mereka bertugas merasa nyaman, kata Manlian seraya melakukan studi banding dengan petugas pemadam kebakaran di negara maju.

 

Dia menyarankan, harusnya petugas Dinas Kebakaran kita juga mendapat fasilitas lengkap seperti di negara-negara luar. Namun ini semua tentunya kembali lagi kepada pola pikir pemerintah untuk memperhatikan nasib petugas kebakaran kita. “Kami dari dunia pendidikan juga tetap menjalin kerjasama dengan Dinas Kebakaran. Kami misalnya membentuk suatu forum kepedulian terhadap bahaya kebakaran di bangunan untuk pendidikan. Sekarang malah sudah banyak bangunan untuk pendidikan yang dilengkapi perangkat kebakaran katanya, antusias. (FNI)

 

Pada tulisan pertama penulis telah menyampaikan tentang Perilaku Api sampai pada teori tentang Segi Tiga Api, yang merupakan hal yang sangat mendasar dalam terbentuknya api. Pada tulisan berikut penulis akan menyampaikan hal-hal yang merupakan pengembangan dari apa yang telah dibahas pada tulisan pertama, yaitu Tetrahedron Api, Gas-gas beracun Hasil Pembakaran, serta Tahapan Kebakaran.


TETRAHEDRON API
Pada perkembangan selanjutnya,ditemukan bahwa selain ketiga komponen seperti yang dimaksud dalam segitiga api ada lagi komponen keempat dalam proses pembakaran yang dibutuhkan oleh proses pembakaran untuk mendukung kesinambungannya  dan juga untuk bertambah besar, yaitu rantai reaksi kimia antara bahan bakar dengan bahan pengoksidasi/oksidator. Seiring dengan menyalanya api, molekul bahan bakar juga berkurang berubah menjadi molekul yang lebih sederhana. Dengan berlanjutnya proses pembakaran, naiknya temperatur menyebabkan oksigen tambahan terserap ke area nyala api. Lebih banyak molekul bahan bakar akan terpecah, bergabung ke rantai reaksi, mencapai titik nyalanya, mulai menyala, menyebabkan naiknya temperatur, menyeap oksigen tambahan, dan melanjutkan rantai reaksi. Proses rantai reaksi ini akan berlanjut sampai seluruh substansi/bahan yang terkait mencapai area yang lebih dingin dinyala api. Selama tersedia bahan bakar dan oksigen dalam jumlah yang cukup, dan selama temperatur mendukung,reaksi rantai akan meningkatkan reaksi pembakaran. Sehingga dengan demikian segitiga api tadi dengan adanya faktor rantai reaksi kimia, yang juga termasuk komponen pembakaran, berubah menjadi satu bangun tiga dimensi segitiga piramida (tetrahedron).

GAS BERACUN HASIL PEMBAKARAN
Selain bahaya panas tinggi ternyata ada satu bahaya yang menjadi penyebab utama kematian dalam peristiwa kebakaran, yaitu asap. Mengapa asap menjadi penyebab utama? Hal ini dikarenakan asap mengandung bermacam-macam gas beracun yang dihasilkan oleh peristiwa pembakaran.
Beberapa gas beracun yang paling banyak dan selalu ada pada peristiwa kebakaran dapat dilihat dibawah ini.

Karbon monoksida (Carbon monoxide)
Karbon monoksida (CO) adalah pembunuh terbesar dalam peristiwa kebakaran karena tingkat kehadirannya yang sangat tinggi dan juga cepatnya ia mencapai konsentrasi mematikan pada peristiwa kebakaran. Karbon monoksida adalah hasil produksi dari pembakaran tidak sempurna yang dihasilkan dari pembakaran senyawa-senyawa organic dan berbagai bentuk karbon. Sering juga kematian akibat karbon monoksida terjadi akibat masuknya asap knalpot ke kabin mobil.
Karbon monoksida berbahaya karena ia adalah gas yang tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak terlihat. Gas ini mematikan pada konsentrasi 1,28 persen volume dalam udara dalam 1 sampai 3 menit; 0,64 persen mematikan dalam 10 sampai 15 menit; 0,32 persen mematikan dalam 30 sampai 60 menit, dan 0,16 persen mematikan dalam waktu 2 jam. Pada konsentrasi 0,05 persen gas ini tetap menyimpan bahaya.

Karbon dioksida (Carbon dioxide)
Karbon dioksida (Carbon dioxide) adalah hasil dari pembakaran sempurna senyawa organic atau senyawa karbon. Bertambahnya konsentrasi karbon dioksida akan mengakibatkan meningkatnya kecepatan pernafasan; sampai di mana tubuh tidak mampu lagi. Kegagalan pernafasan akhirnya akan terjadi. Karbon dioksida dalam jumlah yang sangat banyak dapat mengakibatkan sesak nafas karena kekurangan oksigen dalam darah, selain itu juga dapat berfungsi sebagai bahan pemadam api. Konsentrasi lebih dari 5 persen di lingkungan dapat merupakan tanda bahaya,bukan karena keberadaannya akan tetapi karena kondisi tersebut adalah kondisi yang jauh dari kondisi normal.

Hidrogen sianida (Hydrogen cyanide)
Walau Hidrogen sianida (HCN) jauh lebih beracun dari Karbon monoksida tetapi dalam kebakaran,biasanya, jumlahnya sangat kecil. Pada konsentrasi 100 ppm dapat menyebabkan kematian dalam waktu 30 sampai 60 menit. Hidrogen sianida dihasikan dari pembakaran senyawan hirokarbon terklorinasi di udara, plastik, kulit karet, sutra, wool, atau juga kayu. Seperti halnya karbon monoksida hydrogen sianida lebih ringan dari udara sehingga tingkat bahayanya lebih tinggi pada kebakaran dalam ruangan, dibanding kebakaran luar ruangan.

Phosgene (COCl2)
Phosgene juga dihasilkan pada dekomposisi atau pembakaran senyawa hidrokarbon terklorinasi, seperti karbon tetraklorida, Freon, atau etilene diklorida. Phosgene beracun dan berbahaya pada konsentrasi yang sangat kecil sekalipun. Konsntrasi 25 ppm dapat mematikan dalam waktu
30 sampai 60 menit.

Hidrogen klorida (Hydrogen Chloride)
Hidrogen klorida (HCl) dihasilkan oleh pembakaran bahan-bahan yang mengandung klorin. Walau tidak beracun seperti hydrogen sianida ataupun phosgene, HCl berbahaya apabila kita berada dalam waktu yang cukup lama di lingkungan yang terdapat gas ini.

TAHAPAN KEBAKARAN DALAM RUANGAN
Pada umumnya kebakaran dalam ruangan dengan terbagi dalam tiga tahapan. Masing-masing tahapan memiliki ciri-ciri karaktersitik dan efeknya berhubungan dengan bahan yang terbakar yang berbeda-beda. Lama dari masing-masing tahapan bervariasi tergantung keadaan dari penyulutan, bahan bakar, dan ventilasi, akan tetapi secara keseluruhan tahapannya adalah kebakaran awal – kebakaran bebas – kebakaran menyurut.

A. Kebakaran Tahap Awal Ini adalah tahapan awal dari suatu kebakaran setelah terjadi penyulutan.

Nyala api masih terbatas dan pembakaran dengan lidah api terlihat. Konsntrasi Oksigen dalam ruangan masih dalam kondisi normal (21%) dan temperatur dalam ruangan secara keseluruhan belum meningkat. Gas panas hasil pembakaran dalam betuk kepulan bergerak naik dari titik nyala. Dalam kepulan gas panas terkandung bermacam-macam material seperti deposit karbon (jelaga) ataupun padatan lain, uap air, H2S, CO2, CO, dan gas beracun lainnya,semuanya tergantung dari jenis bahan bakar atau bahan yang terbakar. Panas akan dihantar secara konveksi oleh material-material tadi ke atas ruangan dan mendorong oksigen kebawah yang berarti ke titik nyala untuk mendukung pembakaran selanjutnya.

B. Tahap Penyalaan-bebas
Kebakaran akan menghebat sejalan dengan bertambahnya bahan yang terbakar. Konveksi, konduksi, dan kontak langsung memperluas perambatan api dan keluar dari bahan bahakar awal sampai bahan didekatnya mencapai temperatur penyalaannya dan mulai terbakar. Radiasi panas dari nyala api mulai menyebabkan bahan bahan lain mencapai titik nyalanya, memperluas kebakaran kesamping. Kecepatan perluasan kebakaran kesamping tergantung dari berapa dekat bahan di dekatnya dan juga susunan bahannya. Gas panas yang dihasilkan pembakaran berkumpul di langit-langit ruangan membentuklapisan asap. Temperatur dari lapisan asp ini meningkat. Lapisan yang lebih tinggi di ruangan tersebut memiliki konsentrasi oksigen paling rendah; temperatur tinggi; dan jelaga, asap, dan produk pirolisis yang belum terbakar sempurna pada saat itu sangatlah berbeda dengan kondisi di dekat lantai ruangan. Pada daerah dekat lantai lapisan udaranya masih relatif dingin dan mengandung udara segar (konsentrasi oksigen mendekati normal) yang bercampur dengan hasil pembakaran. Kemungkinan untuk hidup masih cukup di dalam ruangan apabila seseorang bertahan pada posisi merendah pada lapisan dingin dan tidak menghirup gas di bagian atas. Ketika lapisan panas mencapai titik kritisnya pada + 600oC (1100oF), ini sudah cukup untuk menghasilkan radiasi panas yang menyebabkan bahan bakar lainnya (seperti karpet dan furnitur) di dalam ruang mencapai titik nyalanya. Pada saat ini seisi ruangan akan menyala secara serentak, dan ruangan dikatakan mengalami flashover. Saat ini terjadi, temperatur seluruh ruangan mencapai titik maksimalnya dan kemungkinan hidup dalam berada di dalam ruangan ini untuk lebih dari beberapa detik sangat tidak mungkin. Flashover oleh ahli ilmu kebakaran didefinisikan sebagai proses pengembangan, radiasi, dan pembakaran lengkap dari semua bahan bakar dalam suatu ruangan.
Api/kebakaran adalah suatu aksi kesetimbangan kimia antara bahan bakar, udara, dan temperatur (bahan bakar – oksigen - panas). Apabila ventilasi terbatas, pertumbuhan api
akan lambat, peningkatan temperatur akan lebih bertahap, asap akan dihasilkan lebih banyak, dan penyalaan gas panas akan tertunda sampai didapat tambahan udara (oksigen) yang cukup.

C. Tahap Api Mengecil
Akhirnya, bahan bakar habis dan nyala api secara bertahap akan berkurang dan berkurang. Apabila konsentrasi oksigen dibawah 16%, nyala api dari pembakaran akan berhenti meskipun masih terdapat bahan bakar yang belum terbakar. Pembakaran yang terjadi adalah pembakaran tanpa nyala api. Temperatur masih tinggi di dalam ruangan, tergantung dari bahan penyekat dan ventilasi dari ruangan tersebut. Beberapa bahan masih mengalami pirolisis atau terbakar tidak sempurna menghasilkan gas karbon monoksida dan gas bahan bakar lain, jelaga, dan bahan bakar lain yang terkandung dalam asap. Apabila ruangan tidak memiliki ventilasi yang cukup, maka akan terbentuk campuran gas yang dapat terbakar. Maka apabila ada sumber penyalaan yang baru, akan dapat terjadi kebakaran kedua diruangan tersebut, sering disebut backdraft atau ledakan asap. Dengan harapan tulisan ini akan berguna penulis meminta maaf apabila dalam penyampaian tulisan ini banyak kekurangan baik dari segi materi ataupun bahasa. Terimakasih. (Erkatio)

Compressed Air Foam System (CAFS) ditemukan sejak tahun 30 di USA, dan tidak begitu berhasil karena kompleksitas masalah operasi, juga  kehandalan dan konsistensi foam yang kurang terjamin dan pengoperasiannya yang kurang aman.

Suatu kemajuan yang berarti ditemukan di Jerman yang dinamakan “ IMPROVED CAFS ” atau selanjutnya kita akan singkat dengan “ IC ” dengan mempertimbangkan keamanan pengoperasian serta dihasilkan produksi ulang suatu foam yang amat efektif, baik untuk Class A dan Class B fire.

Hasilnya amat revolusioner, baik keamanan pengoperasian serta kehandalan pembuatan dan pengeluaran kualitas foam yang mempunyai efisiensi tinggi dapat terjamin, factor yang utama adalah:
•Permukaan luar/ kemampuan melilit
•Struktur Buih
•Konsistensi Foam
•Tidak beracun dan ramah lingkungan

Setelah uji coba yang dilakukan oleh pemerintah Jerman berhasil baik, dan kemudian digunakan oleh  dinas pemadam kebakaran Jerman, maka negara lain mulai mengganti peralatan dengan menambahkan IC pada mobil/truk pemadam dengan menjadikan satu satunya peralatan pemadam kebakaran di mobil/truk pemadam

DASAR Teknologi
Dasar Foam Teknologi dari IC (Improved CAFS/Compressed Air Foam) adalah dimana air  dirubah  menjadi  foam dengan menggunakan  konsentrasi foam dan udara tekan sehingga dihasilkan buih – buih atau kulit gelembung foam.
Jadi, isi dari 1 titik air dapat dirubah bentuk menjadi kulit dari 7 butir buih/gelembung
Perbandingan rasio air dengan udara dari 1 bagian air menjadi 7 bagian kecil udara, telah terbukti  adalah cara yang paling efisien dan efektif untuk pemadaman api class A dan B
Efek ini merubah 1 liter air dan 7 liter udara menjadi  8  liter  media  pemadaman.
Untuk foam kering, yang biasanya digunakan untuk menghambat penjalaran api pada pemadaman untuk struktur bangunan dengan cara melilit/menggantung foam kering pada permukaan di dekat suatu media yang mudah terbakar dan mengeluarkan panas, akan mempunyai kekuatan pemadaman menjadi 21 kali lipat.

Kelebihannya
Keuntungan IC pada  umumnya, apabila  diperbandingkan  dengan  air,  adalah dimana permukaan aktif dari air diperbesar dan tegangan permukaan air dikurangi. Ini menciptakan pendinginan dari api, dan air dapat menembus api  langsung  ke material yang terbakar.

Dari suatu sumber air yang bertekanan biasa/normal, sampai 10% dari kuantitas air secara aktif punya kontribusi pemadaman  api  karena  permukaan “ kecil ”  yang   berinteraksi  dengan melalui penguapan untuk melepaskan panas.
Tetapi dengan IC, dengan foam bertekanan, 80% dari air dapat digunakan.
Interaksi yang terjadi dengan permukaan “ luas ” yang dihasilkan oleh struktur foam adalah sangat intensif.
Proses penguapan dengan lengketnya lilitian kulit/selimut foam pada material yang terbakar melepaskan air lapis demi lapis akan menghasilkan suatu efek yang lama bertahan pada suatu waktu tertentu dimana panas dapat  diserap  oleh  air. Lebih lanjut, selimut foam akan menutupi kemungkinan gas-gas dari bahan bakar untuk dapat kontak dengan oksigen.
Berbekal fakta dimana suatu sistim konvensional dari foam tidak serta merta dapat menghasilkan suatu foam yang berkualitas stabil.
IC telah didesain sejak awal untuk dapat menggunakan foam semudah mungkin sepertii mudahnya menggunakan air.
Maka sistim “ 1 tombol pengoperasian ” telah ditemukan untuk dapat mengeluarkan baik foam basah maupun foam kering dengan rasio yang tepat, dan tidak tergantung pada besaran diameter nozzle. Hal ini telah dapat diatasi dengan terciptanya desain yang konsisten dengan IC yang mengkontrol Aliran/Flow dari air dari pada mengkontrol Tekanan Kerja/Pressure.
Setting Aliran air dari IC adalah setelan dari pabrik. Jadi, pengguna tidak usah mengganti atau mendapatkan pelatihan khusus untuk dapat merubah rasio Air – Udara yang dikehendaki.
Dengan pengalaman bahwa cepatnya kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh air yang terpolusi oleh bahan dan material yang terbakar, maka pemerintah Jerman selalu memeriksa dan mengawasi peredaran dan penggunaan IC agar dapat lolos dari aturan cermat dari aturan kontrol polusi di Jerman.
Foam adalah tidak beracun, dan tidak ada yang lebih baik dari padanya dalam hal kelarutan dalam tanah, yang dalam beberapa minggu akan terlarut seluruhnya tanpa menggangu orang atau tanah atau lingkungan.
Foam rate yang diperlukan untuk Class A fire hanya 0.3% sedang untuk Class B adalah 0.5%. Hal ini tentunya akan membantu lingkungan terhadap perusakan lingkungan daripada penggunaan cairan kimia yang lain.

Ringkasan Keuntungannya:

•IC adalah lebih baik dibanding  air (sangat superior),  dengan efektivitas  yang  tinggi  dalam   menggunakan air dan faktor perkalian 8 x kapasitas air, maka dengan tangki air 500 liter akan menghasilkan konsentrasi foam setara dengan minimum 4000 liter tangki air.  Ini sangat  penting  terutama di daerah pinggiran perkotaan  yang  kurang  air.

•Faktor   keselamatan kerja bagi petugas dinas pemadam kebakaran adalah tinggi,   karena   besarnya   penurunan   temperature bila menggunakan IC, juga dengan lebih jauhnya jangkauan jarak  tekanan  air  yang secara signifikan mengurangi resiko petugas.

•Waktu pemadaman yang singkat yang terbukti dari hasil tes dan kejadian sebenarnya karena penggunaan foam yang efektif dan penurunan temperatur yang drastis.

•Tidak sama dengan selang air hydran yang biasa, selang berisi foam akan punya kelebihan persediaan energi yang lebih besar. Juga, apabila pompa berhenti, masih tersedia aliran foam untuk dipakai oleh petugas pemadam untuk dapat segera keluar dari tempat bencana.

•Emisi asap sangat kurang dengan menggunakan IC.

•Teknologi 1 titik pengoperasian, baik menggunakan foam basah maupun foam kering jadi mudah tidak perlu pelatihan khusus.

•Aman dan mudah pengoperasian hanya dengan program controller untuk mengkontrol seluruh proses.

•Secara konsisten memproduksi foam dengan kualitas baik dengan rekayasa/desain yang dipantau dari pabrikan.

•Mobil  pemadam kebakaran ukuran kecil dapat digunakan, karena hanya perlu tangki yang lebih   lebih kecil. Juga, dapat menggunakan pompa yang lebih kecil, yang tentunya hanya perlu chasis truck yang lebih kecil, sehingga akan lebih mudah manuvernya, baik di jalan yang sempit atau di tempat yang macet. Juga, akan mengurangi nilai investasi pembelian kendaraan pemadam kebakaran tanpa mengurangi kemampuan pemadaman.

•Kerusakan yang disebabkan oleh air tidak berarti  karena air langung menguap  pada  saat menyentuh material yang terbakar.
(Pada testing yang dilaksanakan oleh pemerintah Jerman oleh badan yang berwenang {German Fire Fighting Approval Test},  untuk IC  pada struktur bangunan, maka tidak didapatkan sisia air pada kaleng tes).

•Tidak menimbulkan polusi dan mengurangi emisi asap.

•Sangat fleksibel untuk modifikasi yang sempurna, dapat dipasang  pada mobil apapun dengan chasis kendaraan apapun, karena ukurannya kecil dan ringan.

•Konsentrasi foam, tidak beracun, tidak berbahaya dan  mudah larut dalam tanah.

•Foam proporsi hanya 0.3% - 0.5%, memerlukan tempat yang kecil jadi murah.

•Selang ringan, dengan mudah dapat diangkat 1 orang.

•Kehilangan tekanan untuk tiap selang adalah kecil,  jadi selang dapat   ditarik  sejauh   lebih dari  1000  meter  pada  permukaan  datar atau  100 meter dengan  suatu ketinggian tanpa memerlukan pompa tambahan.

•IC dengan foam kering punya nilai  merangkul/melilit  yang  akan   menempel  terus pada  suatu   dinding   vertikal  atau ketinggian atap, ideal untuk isolasi dari bahan yang mudah terbakar dan mudah menyala karena radiasi panas.

•Pada foam   basah di atas permukaan dingin, kemampuan melilit/merangkul dari IC akan lebih besar dibandingkan dengan titik-titik panas. Pada akhirnya jelas akan mengurangi potensi kebakaran ulangan

•Dengan konsistensi dari foam pada IC, suatu selimut yang tercipta dari buih buih kecil dan besar akan menggaransi resistensi dari kemungkinan kebakaran ulangan terutama pada material yang mudah terbakar untuk Class A dan B.

•Secara Teknis  IC adalah 100% sesuai standard Jerman DIN 14430 edisi 2003 untuk: “ Positive Pressure Foam Systems and Compressed Air Foam Systems ” Dalam standard ini aspek keselamatan penggunaan untuk alat ini menjadi penting terutama pada sisitim elektrikalnya, dimana instalasi elektrikal mengikuti standard DIN EN 60529, atau lazim kita ketahui sebagai Index Proteksi IP 54.

•IC  tidak perlu peralatan khusus untuk mengikat kompresor dengan Mesin Utama. Kompressor dapat dicatu secara kontinyu oleh shaft pompa air atau oleh mesin diselnya. Jadi tidak akan ada hambatan supply juga tidak perlu PTO tambahan.

•Keseluruhan material IC adalah dari stainless steel dan nikel brass valve, yang bebas dari korosi sehingga air laut dapat dipergunakan.

Oleh : Placidus S (Peter) Petrus
Director of International Operation/Ketua Hubungan Luar Negeri MP2KI.

*Disadur dari lembar teknologi bulletin/majalah MFPA (Malaysian Fire Protection Association) dengan ijin Mr. Steven Ooi (Immediate Past President MFPA, yang saat ini menjabat Director CFPA-I (Confederation of Fire Protection Associations - International), dimana NFPA (USA) dan MP2KI (Indonesia) adalah anggota CFPA-I. Mr. Ooi juga menjadi Advisor dari MP2KI, terutama yang berhubungan dengan International Operation.

 

Kebakaran karena ledakan adalah peristiwa yang sangat cepat dan tidak dikehendaki. Akibat kebakaran yang disebabkan ledakan dapat menimbulkan kerusakan atau kerugian yang sangat fatal, hal ini disebabkan ketidak-disiplinan dalam menggunakan bahan-bahan atau peralatan yang digunakan. Sebab lain kebakaran akibat ledakan adalah karena bencana alam. Akibat gempa yang berkekuatan tinggi mengakibatkan kebakaran pada sejumlah bangunan. Namun tak jarang juga terjadi kebakaran akibat ledakan yang disengaja, biasanya dilakukan dengan tujuan politis. Bahan-bahan yang dapat menimbulkan ledakan berupa: zat padat, zat cair, gas dan campuran.

Definisi Bahan Peledak
Definisi bahan peledak adalah suatu zat padat/cair atau campuran yang karena reaksi kimia sangat cepat menghasilkan gas-gas dalam jumlah yang sangat besar serta tekanan temperatur yang sangat tinggi sehingga menim-bulkan kerusakan di sekelilingnya.

Tipe ledakan dibagi menjadi dua kelompok:
1.Ledakan terlokalisir, mempunyai konsentrasi uap lebih rendah dari pada batasan ledakan/kebakaran   tidak akan terjadi disebut dengan lower exclusive limit (LEL).
2.Ledakan yang tidak terlokalisir, mempunyai uap konsentrasi yang lebih tingi dari batasan ledakan   atas. Pembakaran akan terjadi karena campuran uap yang mudah terbakar di udara akan menjadi   konsentrasi yang lebih tinggi disebut dengan upper exclusive limit (UEL). Interval suhhu antara 493,3   – 604,4 derajat celcius.

Interval aksi ledakan:
a.konsentrasi tinggi
b.jangkauan leakan
c.konsentrasi sangat tinggi dan jangkauan ledakan
d.konsentrasi rendah

Interval pembakaran atau ledakan untuk suatu bahan disebut dengan konsentrasi uap dalam udara yang dibutuhkan untuk kebakaran atau ledakan secara spontan, terjadi peristiwa oksidasi tingi atau rendah yang menyebabkan perubahan biologis (beracun).
Peledakan juga dapat terjadi pada cairan yang mudah terbakar akan terjadi ledakan dan melepaskan energi atau tenaga yang sangat tinggi. Contoh: Senyawa organik (bensin/premium, aftur, solar, minyak pelumas dan senyawa alcohol).
Senyawa organik di atas mempunyai titik bakar sendiri yang disebut titik api (fire point), artinya dimana suhu terendah dari cairan yang mudah terbakar walaupun suhu terendah penyalaannya dijauhkan.

Karakteristik kerusakan karena ledakan:
1.Perubahan sangat cepat
2.Menghasilkan panas tinggi
3.Menghasilkan asap, debu dan uap yang tebal
4.Sulit diatasi atau dipadamkan sebelum bahan-bahan yang terba-karnya habis

Ledakan dapat terjadi sebelum terjadinya kebakaran atau sebaliknya, dimana akan dipengaruhi oleh sifat bahan yang terdapat dalam kejadian tersebut. Di dalam suatu peristiwa ledakan dimana bahan secara spontan pada suhu tertentu menyala disebut dengan auto ignation temperature. Bahan yang terdapat dalam zat padat, cair dan gas prosesnya secara spontan dengan pengaruh udara panas serta bahan lain yang menghasilkan energi yang sangat besar.

Beberapa partikel-partikel yang dapat menimbulkan kebakaran/ledakan:
1.Gas, adalah molekul-molekul yang dapat bedifusi ke segala arah dimana perubahan fase cair atau padat   ke fase gas (dry-ice).
2.Uap, adalah bentuk gas dari suatu bahan dalam keadaan normal, cair/padat menghasilkan uap dalam kamar   yang dapat berdifusi ke segala arah karena disebabkan temperatur yang sangat besar dalam ruangan.
3.Asap, adalah berupa karbon atau tembaga yang mempunyai diameter 0.1 milimicro sebagai hasil   pembakaran yang tidak sempurna dari bahan yang mengandung karbon.
4.Fumes, adalah partikel-partikel logam yang halus dan mempunyai diameter kuarang dari 1 milimicro   sebagai hasil dari kondensasi uap logam di udara yang dingin (logam timah hitam/seng).
5.Kabut, adalah merupakan tetesan halus dari suatu cairan yang terdipersi dalam udara yang stabil   (kabut minyak pada waktu pemo-tongan logam/mengerinda dan pengecatan).
6.Debu, adalah partikel-partikel yang halus dari zat yang mempunyai diameter 0,1 s/d 25 milimicro keberadaannya melayang di udara.

Partikel yang lebih besar dari 5 milimicro mudah terjadi pengendapan, sedangkan yang kurang dari 5 milimicro dapat membahayakan pernafasan mahkluk hidup, seperti proses peng-hancuran, pengerindaan, tumpukan atau peledakan pada pabrik atau gudang semen dan asbes.

10 sumber penyalaan api yang dapat menimbulkan kebakaran/ledakan:
a. dengan sengaja (arson)
b. sumbu pembakar
c. listrik
d. sumber penyalaan dari luar
e. pemercikan api dari pergeseran
f.  permukaan yang menghasilkan panas
g. pekerjaan yang menghasilkan panas
h. peralatan terlalu panas/menjadi panas
i. merokok
j. penyalaan spontan/peledakan

Dari kesepuluh sumber penyalaan api kenyataan di lapangan yang sering terjadi adalah listrik, disiplin manusia (arson), permukaan yang menghasilkan panas, pekerjaan yang menghasilkan panas, perlatan yang terlalu panas.
Bahan kimia yang mudah meledak ada yang dibuat sengaja untuk tujuan tertentu, bahan tersebut sensitif terhadap panas dan pengaruh mekanik. Biasanya sering terjadi di kawasan industri terutama industri batu bara, baja dan penghasil zat pewarna. Terjadinya ledakan, disebabkan karena percampuran bahan-bahan oksidator dan bahan reduktor dalam suatu tabung/reactor hingga menimbulkan ledakan yang tinggi serta gas-gas lain.
Bahan oksidator adalah bahan yang sangat reaktif yang mampu mengha-silkan oksigen dalam reaksi penguraian yang dapat menimbulkan kebakaran atau ledakan.

Pembagian Bahan Oksidator
1.Bahan anorganik, seperti permangat (PK), perklorat, hydrogen perok-sida, dikromat, persulfat dll.
2.Bahan organic, seperti benzyl peroksida, asetil peroksida, eter peroksida, perasetat dll.

Bahan-bahan Yang Reaktif Terhadap Air.
Dari beberapa bahan kimia yang bereaksi hebat/cepat terhadap air dan menghasilkan ledakan serta kebakaran disebabkan oleh zat bereaksi secara exotermik (menghasilkan panas yang besar) dan gas yang mudah terbakar/molekul, seperti logam alkali, logam alkali tanah, logam halida, logam anhidrat, logam oksida anhidrat dan logam oksida non logam halida. Zat-zat tersebut harus dijauhkan dari air atau terkena uap air, dengan kata lain penyimpanan ruangan harus kering atau suhu stabil.  (Oleh: Drs. Syamsir Makmur)

Radiasi Panas dan Peningkatan Temperatur Udara.

Lingkungan pada kebakaran dapat dibagi menjadi tiga daerah hubungannya dengan jumlah panas yang memapar (mengenai) anggota pemadam kebakaran dan peralatan pelindungnya. Grafik yang menunjukkan hubungan antara terus meningkatnya radiasi thermal (panas) dan kenaikan temperatur yang diakibatkannya. Ke tiga daerah cakupan dilukiskan dengan “rutin”, “kondisi operasional biasa” dan “darurat” (emergency).
Istilah “rutin” menggambarkan kondisi ketika satu atau dua benda terbakar pada suatu ruang tertutup mis. kasur atau kursi yang mulai terbakar. Pada kondisi ini baik radiasi thermal (panas) dan temperatur udara yang yang dihasilkan di dalam ruangan tidak jauh lebih tinggi dibanding udara tengah hari pada musim kemarau. Pakaian pelindung pemadam kebakaran yang ada sangat lebih dari cukup untuk kondisi seperti ini.
Istilah “kondisi operasional biasa” menjelaskan cakupan temperatur udara yang dihadapi ketika melakukan operasional pemadaman kebakaran yang lebih serius. Biasanya satu pakaian pelindung (jacket dan celana) yang baik akan menyediakan waktu perlin-dungan yang cukup panjang pada “kon-disi operasional biasa”. Pada akhir dae-rah ini adalah kondisi udara yang sangat panas dan tidak memungkinkan seorang anggota pemadam kebakaran terpapar untuk waktu yang lama. Istilah keadaan “darurat” (emergency) menerangkan kondisi yang dihadapi oleh para anggota pemadam kebakaran ketika berada pada ruangan yang mendekati, atau melebihi temperature flasover. Pada kondisi “daru-rat” ini beban panas yang harus dihadapi mencapai atau bahkan melebihi 2.0 cal/cm2, dan kondisi temperatur udara dapat berkembang melebihi kemampuan bahan textile (kain) pakaian pelindung pemadam kebakaran. Prosedur Keselamatan Antisipasi Luka Bakar
Manakala suatu anggota pemadam kebakaran merasakan “sakit”, ini ada-lah  isyarat adanya awal kerusakan kulit, seorang anggota pemadam kebakaran harus membuat suatu keputusan menyangkut tipe bakaran (gejala luka bakar) yang ia akan alami.

Dalam posisi ini, mungkin sederhananya ia hanya perlu melakukan tindakan memberi celah antara pakaian dengan permu-kaan kulit (air gap) untuk mencegah ‘wet compression burns’ (luka bakar akibat tekanan basah). Akan tetapi kita tidak dapat memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada kondisi seperti itu, dan ada risiko apa yang dialaminya  ternyata lebih parah dari yang diduga. Tidak ada tanda-tanda yang nyata yang dapat memperkirakan kondisi sesung-guhnya yang akan terjadi, semua ter-gantung dari perubahan satu situasi kesituasi berikutnya, untuk itu ada urutan aturan (rule of thumb) yang dapat membantu seperti yang ditulis oleh J. R. Lawson, (Fire Engineering, 08/98) yaitu:
Manakala rasa sakit terasa, hal itu harus diasumsikan seseorang telah mengalami suatu luka bakar (burn) tahap pertama (first-degree) atau lebih parah.
Sekali rasa sakit terasa waktu men-jadi suatu faktor kritis dalam mengu-rangi tingkat luka bakar.Tetap tinggal di lingkungan dengan temperatur tinggi akan meningkat-kan tingkatan dan area luka bakar.
Jika suatu anggota pemadam keba-karan mampu pergi keluar dari ling-kungan ini panas yang tersimpan pada pakaiannya dapat mening-katkan tingkatan luka baker yang dialaminya sampai pakaiannya dapat dilepaskan. Suatu luka bakar akan meningkat keparahannya sepanjang temperatur kulit sama dengan atau lebih besar dari 44°C.
Ketika seorang petu-gas pemadam kebakaran menggunakan pancaran air di lokasi kebakaran untuk memadamkan atau mendi-nginkan, dapat terjadi risiko Scald burns (luka bakar akibat cairan panas). Tindakan pertama yang paling penting adalah menge-luarkannya dari area dengan temperatur tinggi dan me-nyiramnya dengan air (dalam jumlah besar) untuk men-dinginkan pakaian pelin-dungnya dan juga lapisan kulitnya.
Para anggota pemadam kebakaran menunjukkan kebiasaan bahwa mereka meremehkan tingkat luka bakar selagi sedang bekerja, sampai mereka melepaskan pakaian pelin-dung mereka. Ini dapat diterangkan sebab jaringan kulit manusia menjadi mati rasa pada saat temperatur mencapai 62°C. Oleh karenanya bertintak pada rasa sakit pertama sangat perlu!


Pembahasan di atas menyarankan bahwa ketika seorang anggota pemadam kebakaran mengalami rasa sakit akibat terpapar panas, waktu untuk meningkatkan taktik untuk mencegah kecelakaan telah terle-wati dan tindakan segera yang diperlukan adalah untuk mengurangi ancaman kecelakaan yang lebih parah.
Untuk mampu dengan cepat mele-paskan pakaian petugas pemadam kebakaran dalam rangka mencegah luka bakar memburuk lebih lanjut, salah satu aplikasi yang ada adalah “panic system’ pada perlengkapan perlindungan diri/pribadi petugas pemadam Dusseldorf dan Berlin. 

Pelatihan yang cukup perlu diberikan kepada anggota pemadam kebakaran untuk memanfaatkan “Quick-Out” sistem ini ketika mele-paskan pakaian pelindung (fire jacket) mereka. Suatu pengoperasian tak didisengaja dapat mengakibatkan konsekwensi serius jika jaket terbuka di dalam ruangan yang terbakar hebat.
Seperti luka bakar, tekanan panas harus dipertimbangkan manakala memakai perlengkapan perlindungan diri/pribadi. Pada 1996, 44 - 45 anggota dinas pemadam kebakaran di AS terkena serangan jantung di pada saat bertugas berkaitan dengan ketegangan (stress) atau pekerjaan yang terlalu keras. Seperti halnya tekanan kelembaban, panas dan lingkungan yang mengancam, anggota pemadam kebakaran memakai perlengkapan perlindungan diri/pribadi yang berat dan pada saat bersamaan harus melaksanakan pekerjaan yang sangat berat. Dehidrasi dapat terjadi, yang mana adalah penyebab utama penyakit akibat panas. Tekanan panas atau hyperthermia (temperatur badan jauh di atas normal) dan dehidrasi dapat menyebabkan kelelahan pre-matur. Sesungguhnya, dalam waktu kurang dari satu jam di bawah kondisi cuaca lembab dan panas, daya tahan otot akan berkurang.

Kesiap siagaan dan kapasitas mental juga akan ber-pengaruh. Seorang anggota pemadam kebakaran boleh jadi dapat memper-tahankan kondisinya dan dilain pihak anggota pemadam kebakaran yang lain mengalami penurunan kondisinya. Setelah 2 jam, akibat efek tekanan panas kram, kelelahan, hilangnya kekuatan, berkurangnya koordinasi da-pat terjadi. Pada tingkatan yang lebih jauh, sakit kepala, mual, pening dan kelelahan serius dapat terjadi. Pada tahap yang paling parah, hyperthermia dapat mengakibatkan roboh, keadaan pingsan dan bahkan kematian.

(Terjemahan bebas dari “Tactical Firefighting”,)
Erkatio


 

Create Account



Log In Your Account